Tuesday, May 5, 2026

Yumi’s Cells Season 3: Perjalanan Emosional yang Lebih Dewasa dan Relatable


Setelah sukses besar di dua musim sebelumnya, Yumi’s Cells kembali hadir dengan Season 3 yang menawarkan cerita lebih matang dan menyentuh. Drama ini masih mempertahankan konsep uniknya—menggabungkan live-action dengan animasi sel-sel dalam pikiran karakter utama—namun kali ini fokusnya lebih dalam pada perjalanan hidup dan pertumbuhan pribadi Yumi.
Diperankan dengan sangat apik oleh Kim Go-eun, karakter Yumi kini berada di fase kehidupan yang lebih kompleks. Ia tidak lagi sekadar memikirkan cinta dan hubungan romantis, tetapi juga mulai dihadapkan pada realita tentang karier, tujuan hidup, serta makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Season 3 menghadirkan konflik yang lebih dekat dengan kehidupan nyata, terutama bagi penonton yang sedang berada di usia dewasa dan mengalami fase “figuring life out”.

Salah satu kekuatan utama drama ini tetap terletak pada representasi “sel-sel” di dalam pikiran Yumi. Di musim terbaru ini, peran sel-sel seperti sel cinta, sel logika, dan sel ambisi terasa lebih dominan dalam menggambarkan pergulatan batin yang sering kali tidak terlihat dari luar. Penonton diajak memahami bahwa setiap keputusan kecil dalam hidup sebenarnya merupakan hasil dari “diskusi internal” yang kompleks.

Dari segi visual, perpaduan antara animasi dan adegan nyata semakin halus dan kreatif. Transisi antar dunia terasa lebih seamless, membuat pengalaman menonton menjadi lebih hidup dan tidak membosankan. Detail kecil dalam animasi sel-sel juga berhasil menambah unsur humor yang ringan di tengah cerita yang cukup emosional.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan cinta Yummi's Cell yaitu :
1. Kamu boleh bucin, boleh sangat mencintai pasangan tetapi tidak melupakan dirimu sendiri. Dirimu yang bahagia itu prioritas. Jika perasaan tulus dan besar cintamu tidak dipedulikan, makasih tinggalkan.

2. Secinta apapun kamu dengan pasanganmu, jika ia sudah bisa goyah karena satu wanita, dia tidak layak dipertahankan. Jadilah wanita berprinsip seperti Yumi.

3. Gagal dalam sebuah hubungan itu tidak masalah. Salah memilih pasangan, that's okay. You just need move on. Tidak semua perjalanan cintaku itu buruk, walaupun akhirnya putus.

4. Selalu prioritaskan dirimu sendiri, seperti Yumi yang selalu bertarung dengan sel-sel nya setiap hari, demi memperjuangkan hal terbaik untuk hidupnya. 

5. Untuk mendapatkan pasangan terbaik, kalian memang harus jatuh bangun, sakit hati sangat hancur, karena bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian memang benar adanya. Shin soon rok adalah bukti nyata kesabaran Yumi atas kehidupan cintanya. Walaupun fiksi tapi ini realistis. 

Yumi deserves better than Woong and Babi. The answer is soon rok. 

Friday, May 1, 2026

Ketika Anak Tantrum di Tempat Umum, Aku Belajar Jadi Ibu yang Lebih Tenang


Aku masih ingat jelas hari itu.

Di tengah antrian panjang di minimarket, anakku tiba-tiba menangis keras. Bukan sekadar merengek—ini full tantrum. Badannya mulai menjatuhkan diri ke lantai, suaranya makin keras, dan semua mata langsung tertuju ke kami.

Jujur, saat itu yang aku rasakan bukan cuma panik… tapi juga malu.

Pikiran langsung ke mana-mana: "Orang-orang pasti mikir aku nggak bisa ngurus anak."

"Kenapa sih nggak bisa diam sebentar aja?"

Refleks, aku hampir membentak.

Tapi entah kenapa, aku menahan diri.

Tantrum Itu Bukan “Anak Nakal”

Setelah kejadian itu, aku mulai banyak belajar. Ternyata tantrum bukan karena anak ingin mempermalukan orang tuanya. Mereka hanya belum punya kemampuan untuk mengelola emosi.

Bayangkan saja, sebagai orang dewasa kita pun kadang masih kesulitan mengontrol emosi. Lalu bagaimana dengan anak kecil yang bahkan belum bisa mengungkapkan perasaannya dengan jelas?

Tantrum adalah bahasa mereka.

Bahasa yang mungkin terdengar “berisik”, tapi sebenarnya penuh pesan:

“Aku capek”

“Aku lapar”

“Aku ingin didengar”

“Aku kewalahan”

Yang Berubah Bukan Anak, Tapi Caraku Merespons

Dulu, aku fokus bagaimana membuat anak cepat diam.

Sekarang, aku belajar fokus untuk memahami.

Waktu tantrum berikutnya datang (dan ya, itu pasti terjadi lagi 😅), aku mencoba hal yang berbeda:

Aku berlutut, menyamakan posisi dengan anak

Menatap matanya, tanpa marah

Mengatakan dengan lembut:

“Mama tahu kamu lagi marah ya…”

Ajaibnya, tangisnya tidak langsung berhenti. Tapi… dia merasa didengar.

Dan itu jauh lebih penting.


3 Hal yang Aku Pelajari dari Tantrum Anak

1. Tidak semua harus diselesaikan dengan cepat

Kadang, kita terlalu buru-buru ingin “memperbaiki keadaan”, padahal anak hanya butuh ditemani.

2. Emosi anak itu valid

Walaupun alasannya terlihat sepele bagi kita, bagi mereka itu besar.

3. Orang tua juga harus belajar mengatur emosi

Ini yang paling sulit. Tapi juga yang paling penting.


Menjadi Orang Tua yang Cukup, Bukan Sempurna

Sejak saat itu, aku berhenti mengejar jadi ibu yang selalu benar.

Aku hanya ingin jadi ibu yang mau belajar.

Yang kadang masih salah, masih lelah, tapi tetap berusaha memahami.

Karena ternyata, momen tantrum bukan cuma tentang anak yang belajar mengelola emosi…

Tapi juga tentang orang tua yang belajar menjadi lebih sabar.

✨ Kalau kamu pernah mengalami hal yang sama, aku ingin tahu: Apa momen tantrum anak yang paling

 kamu ingat? Dan bagaimana kamu menghadapinya?

Wednesday, April 29, 2026

"Kan remaja udah jago internetan, emang masih perlu diawasi?"


Hai, kali ini aku mencoba untuk menulis ulang kembali ringkasan dari konten Instagram mba Najelaa Shihab, yang juga seorang Inisiasi berdirinya Keluarga Kita. 

Judul yang aku ambil juga karena keresahaan sebagai ibu yang juga punya anak pra remaja yang kita tahu lagi mencari jati diri nya terutama di bidang digital. 

Remaja memang seringkali lebih mahir daripada kita dalam menggunakan teknologi. Namun, mengikuti kegiatan remaja di internet penting untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan mereka karena secara sosial emosional, kognitif dan fisik mereka belum siap. Remaja bisa mendapatkan manfaat di internet, tapi mereka juga terpapar ragam hal berbahaya yang bisa mempengaruhi kesehatan mental dan aktivitasnya di dunia nyata.

Kita dan remaja sama-sama perlu untuk melatih kemampuan mengenali jenis konten yang dapat dipercaya, mencari tahu cara melindungi diri dari bahaya kejahatan di internet, berkomitmen mempraktekkan etika berinternet yang sesuai dengan norma umum dan nilai-nilai keluarga, serta mengutamakan keamanan dengan mengikuti panduan keamanan aplikasi.

Yang perlu kita lakukan antara lain :
1. Membahas resiko adiksi media sosial dan motif pesan yang diaplikasi algoritma.
2. Memberi batasan dan teladan tentang durasi penggunaan gawai, akun yang aman untuk dikonsumsi serta cara interaksi yang berbasis nilai serta empati. 
3. Membahas secara khusus situasi-situasi darurat berkait keamanan (termasuk perundungan)
4. Mendukung kompetensi anak untuk berkarya menggunakan teknologi digital sesuai minta, bakat, serta aspirasi.
5. Berkala menggunakan waktu khusus untuk saling mendengarkan tentang kekhawatiran dan harapan masing-masing perihal kegiatan di internet, agar remaja semakin nyaman untuk terbuka menceritakan aktivitasnya. 


Sunday, April 26, 2026

Plot Twist Perfect Crown Nggak Masuk Akal… Tapi Justru Itu yang Bikin Nagih!


Drama Korea Perfect Crown menjadi salah satu tontonan yang cukup mencuri perhatian, terutama karena dibintangi oleh dua nama besar: Byun Woo-seok dan IU. Perpaduan keduanya langsung menciptakan ekspektasi tinggi sejak awal, dan menariknya, drama ini cukup berhasil memenuhi sebagian besar harapan penonton.


Secara garis besar, Perfect Crown mengangkat tema ambisi, kekuasaan, dan harga yang harus dibayar untuk mencapai kesempurnaan dalam hidup. Ceritanya berpusat pada karakter yang diperankan Byun Woo-seok, seorang pria dengan latar belakang kompleks yang berusaha membangun “mahkota sempurna” dalam karier dan kehidupannya. Di sisi lain, IU memerankan sosok perempuan cerdas dan emosional yang menjadi penyeimbang sekaligus tantangan terbesar dalam hidupnya.


Salah satu kekuatan utama drama ini ada pada chemistry antara kedua pemeran utama. Byun Woo-seok berhasil menunjukkan sisi dingin, ambisius, tapi tetap manusiawi. Sementara IU tampil sangat natural dengan emosi yang terasa tulus, membuat karakternya mudah untuk disukai sekaligus dipahami. Interaksi mereka terasa hidup, tidak kaku, dan mampu membuat penonton ikut terlibat secara emosional.


Dari segi sinematografi, Perfect Crown tampil cukup elegan. Penggunaan tone warna yang cenderung soft namun tetap dramatis mendukung suasana cerita yang penuh konflik batin dan tekanan sosial. Musik latarnya juga memperkuat emosi di setiap adegan penting, meskipun tidak terlalu mencolok.

Namun, drama ini bukan tanpa kekurangan. Di beberapa bagian, alur cerita terasa sedikit lambat, terutama di pertengahan episode. Ada juga beberapa konflik yang terasa dipanjangkan, seolah ingin mempertahankan ketegangan namun justru sedikit mengurangi intensitas cerita.


Meski begitu, secara keseluruhan Perfect Crown tetap layak untuk ditonton, terutama bagi pecinta drama dengan tema serius dan emosional. Drama ini tidak hanya menyajikan kisah cinta, tetapi juga refleksi tentang ambisi, tekanan hidup, dan arti “kesempurnaan” yang sebenarnya.

Tuesday, November 4, 2025

Belajar Self Awareness di zona 1 Bunda Sayang IIP

         Source : Canva edit by hera

Akhirnya setelah melewati masa kegalauan ikut kuliah bunda sayang lagi atau tidak, karena pernah lulus di tahun 2019. Mantap untuk memutuskan ikut kuliah bundsay lagi di tahun ini. 

Zona 1 kali ini kita dikenalkan cara untuk mengenali emosi diri. Fasil di zona ini yaitu Mba Lulu Maslukanah. 

Di materi ini, kita dikenalkan dengan Roda Emosi Plutchik, yaitu bermacam-macam jenis emosi yang dikenali. Ternyata menurut Paul Eijkman, emosi adalah reaksi psikologis dan fisiologis jangka pendek yang terjadi secara otomatis sebagai respon terhadap peristiwa tertentu. 

Di zona ini kita mendapat tantangan yaitu latihan pernafasan 4-7-8 selama 3 hari berturut-turut lalu dilanjutkan dengan mengenal emosi diri dengan roda emosi Plutchik selama 10 hari. 

Banyak manfaat yang dirasakan setelah mempraktekan tugas tersebut. Semoga bisa tetap terus dijalankan. 

Sunday, September 21, 2025

Self-Love Itu Nggak Egois, Kok! Begini Cara Mulainya

Banyak orang masih mikir kalau self-love itu egois. Katanya, terlalu fokus sama diri sendiri berarti kita nggak peduli sama orang lain. Padahal, justru sebaliknya. Kalau kita nggak sayang sama diri sendiri dulu, gimana bisa punya energi buat sayang ke orang lain?

Aku juga pernah ngalamin masa di mana sibuk banget mikirin kebutuhan orang lain, sampai lupa ngurusin diriku sendiri. Hasilnya? Capek, gampang marah, dan akhirnya malah nggak bahagia. Dari situ aku belajar: self-love itu bukan pilihan, tapi kebutuhan.

1. Mulai dari hal kecil yang sederhana

Self-love nggak harus mahal atau ribet. Nggak perlu nunggu liburan ke Bali atau belanja skincare satu lemari. Kadang cukup dengan:

Tidur lebih awal biar badan segar.

Minum air putih cukup setiap hari.

Bilang “nggak” kalau memang nggak sanggup.

Hal kecil kayak gini kelihatan sepele, tapi efeknya luar biasa buat pikiran dan tubuh.

2. Hargai diri sendiri, sekecil apa pun pencapaiannya

Sering banget kita gampang mengapresiasi orang lain, tapi lupa sama diri sendiri. Aku juga dulu gitu. Baru sadar, kalau kita aja nggak menghargai diri sendiri, siapa lagi?
Contohnya, kalau kamu berhasil beresin kerjaan lebih cepat, atau bisa bangun pagi tanpa snooze alarm—itu udah prestasi, lho! Rayakan dengan cara sederhana, misalnya kasih diri sendiri waktu buat nonton film kesukaan.

3. Tau kapan harus berhenti

Kadang kita maksa diri terlalu keras, sampai lupa batas kemampuan. Padahal, self-love itu juga berarti tahu kapan harus bilang “cukup”. Nggak apa-apa kok kalau salah atau gagal. Nggak perlu nyiksa diri hanya demi terlihat sempurna.

4. Lepasin hal-hal yang bikin sakit hati

Self-love juga tentang berani melepaskan.

Stop stalking hal-hal yang bikin hati nggak tenang.

Jangan terjebak di hubungan toxic yang bikin kamu nggak merasa berharga.

Belajar fokus ke hal-hal yang bisa kamu kontrol, dan ikhlasin yang nggak bisa.

Percaya deh, rasanya lebih ringan banget setelah berani lepasin yang bikin kita stuck.

5. Ingat: Self-love itu perjalanan, bukan hasil instan

Nggak ada orang yang langsung jago dalam mencintai diri sendiri. Kadang ada hari di mana kita semangat banget, kadang ada juga hari di mana kita jatuh lagi. Itu normal banget. Yang penting, kita terus belajar jadi versi terbaik diri kita, pelan-pelan.

🌸 Jadi, kalau hari ini kamu boleh pilih satu hal kecil buat mulai self-love, kamu mau mulai dari mana? 🌸

Aku penasaran banget, bentuk self-love kecil apa yang mau kamu lakuin hari ini? Yuk, tulis di kolom komentar atau share pengalaman kamu. Siapa tahu cerita kamu bisa jadi inspirasi buat orang lain yang lagi belajar sayang sama dirinya juga 💕

Monday, September 15, 2025

Serunya Sehari di World of Wonders Cikupa

     World of wonders dikenal dengan "dupe nya Dufan "

Beberapa waktu lalu, aku dan keluarga memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah tempat yang sudah lama ada di daftar tujuan kami: World of Wonders Cikupa. Dari namanya saja sudah terasa, tempat ini menjanjikan sebuah dunia penuh keajaiban, dan ternyata memang benar adanya.

Begitu melewati pintu masuk, kami langsung disambut dengan suasana yang berbeda—seperti sedang dibawa ke dalam dunia cerita. Ada miniatur bangunan ikonik dunia, patung-patung unik, hingga spot foto menarik yang langsung membuat anak-anak bersemangat. Aku pun ikut tak sabar menjelajahi satu per satu wahana yang ada.

Salah satu momen paling seru adalah ketika mencoba wahana roller coaster. Degup jantung terasa semakin cepat ketika kereta mulai menanjak perlahan, lalu tiba-tiba meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Teriakan bercampur tawa membuat suasana semakin ramai. Bagi yang ingin menikmati pengalaman lebih santai, ada juga wahana seperti kereta mini yang membawa pengunjung berkeliling sambil menikmati pemandangan.

Anak-anak paling betah di area permainan air dan istana balon. Mereka bisa bermain sepuasnya, sementara para orang tua duduk santai sambil mengawasi. Rasanya menyenangkan sekali melihat wajah ceria mereka, seolah semua lelah selama seminggu bekerja langsung terbayar lunas.

Selain wahana, yang membuatku betah adalah suasana yang cukup tertata rapi. Ada banyak tempat makan kecil sehingga tak perlu khawatir kalau perut mulai lapar. Fasilitas umum seperti mushola dan toilet juga tersedia dengan cukup baik, jadi keluarga bisa beraktivitas dengan nyaman.

Hari itu, kami pulang dengan tubuh lelah tapi hati penuh bahagia. World of Wonders Cikupa bukan sekadar taman bermain, tapi juga tempat di mana keluarga bisa menciptakan kenangan indah bersama. Aku merasa setiap orang tua sesekali perlu membawa anak-anaknya ke tempat seperti ini—tempat di mana tawa, keceriaan, dan kebersamaan bercampur menjadi satu.